ini ceritaku .. mana ceritamu kawan... :D - jangan lupa komennya kawan -

Jumat, 03 Agustus 2012


Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang termasuk pada jajaran 4 perguruan tinggi terbaik di Indonesia tampaknya sudah begitu akrab dengan kata “pengkaderan”. Bagaimana tidak? Setiap maba (mahasiswa baru) yang masuk ke institusi ini paling tidak diwajibkan untuk mengikuti kegiatan ini. Berbandrol kata “pengkaderan”, sejujurnya kegiatan ini lebih pantas disebut sebagai Ospek untuk mahasiswa baru.


Kesenioritasan sangat tampak jelas. Maba seolah wajib tunduk dengan segala hal yang dituturkan senior. Saya sendiri merasa seperti manusia yang paling tolol pada saat baru pertama kali menginjakan kampus yang super panas ini. Pokoknya, selama masa pengkaderan, hanya terdapat 1 hukum yang berlaku, Maba selalu salah dan Mala (senior) selalu benar ! Tapi itu memang script dari senior buat junior yang bertujuan merubah pola pikir mahasiswa baru  dalam kehidupan baru di kampus.

Pengkaderan di ITS tergolong sebagai pengkaderan yang bisa dikatakan tidak mudah seperti di universitas lain. Tetapi juga tidak bisa dikatakan sebagai ospek yang berat.Menurut saya , ospek yang di adakan oleh ITS memang diatur sebegitu rupanya untuk mewujudkan mahasiswa yang ideal nantinya. Banyak cerita bahwa ITS dianggap kampus militer dahulu , seperti ada kabar sesumbar yang mengatakan bahwa Maba fakultas teknik dikabarkan meninggal karena ulah seniornya. Itu adalah cerita lama dari kampus saya tercinta ini .Saya sempat tak peduli dengan berita tersebut. Toh, ini adalah institusi pendidikan. Bukan militer. Sekedar berbagi pengalaman saja, ketika saya dikader, kata-kata kotor dari para senior sangat deras menghujani mahasiswa baru ketika itu. Itu memang karakter kuat jiwa jiwa anak Suroboyo.Hidup memang keras kawan ... ;D itu realita pengkaderan...


ITS membentuk Pengkaderan yang ideal


Tahun 2012 awal masuknya mahasiswa baru.Pengkaderan sudah banyak terdengar di lingkungan kampus biru ini.Waktu terus bergulir, menyentuhkan perubahan dalam segala lini kehidupan mahasiswa. Hal-hal yang dulunya dianggap tabu sekarang bisa dibahas secara terbuka, diperbincangkan dan dicarikan konsep idealnya. Tak terkecuali pengaderan mahasiswa ITS.

Kampus ITS, ITS Online - Harus diakui, saat ini pengaderan tidak lagi hanya berorientasi pada proses adaptasi mahasiswa baru saja. Elemen-elemen kegiatan ini telah menjadi lebih ambisius untuk membentuk mahasiswa-mahasiswa 'hero' dalam berbagai bidang. Namun, konsepsi yang seragam dari waktu ke waktu menjadikan perubahan hanya berhenti di tataran ide. Elemen pengaderan tak jarang gamang dalam menentukan langkah yang tepat.

Kegamangan ini menjadi bahasan besar dalam Musyawarah Besar (Mubes) IV beberapa waktu yang lalu. Pertanyaan utama yang diutarakan adalah: model mahasiswa seperti apa yang dianggap ideal untuk kampus ini? Pertanyaan ini menjadi penting karena selama ini, pengaderan secara keliru dipahami sebagai upaya mencetak mahasiswa baru menjadi ahli waris masing-masing himpunan mahasiswa saja. Artinya, mahasiswa yang baik adalah mereka yang dirasa mau dan mampu menjadi pengurus himpunan ke depannya.

Kesalahan persepsi ini kemudian memberikan efek samping yang buruk bagi mahasiswa dengan ketertarikan yang berbeda. Mereka yang memiliki ketertarikan lebih pada bidang keilmiahan dan minat bakat seolah divonis sebagai mahasiswa dengan kasta kedua dalam hal pencapaian nilai pengaderan. Akibatnya, mereka tidak mendapat tempat yang cukup untuk mengaktualisasikan diri di kampus ini.

Mencoba menjadi penengah, Mubes IV kemudian hadir dengan konsepsi dan cara pandang baru mengenai proses pembentukan kader mahasiswa. Dalam Haluan Dasar Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (HD PSDM) dijelaskan bahwa proses pengaderan haruslah memuat tiga bidang pencapaian. Yakni bidang keilmiahan, minat dan bakat serta manajerial. Ketiga bidang ini diharapkan mampu merangkul seluruh mahasiswa dengan jenis ketertarikan yang berbeda.

Bidang keilmiahan misalnya, diharapkan mampu menjadi wadah bagi mahasiswa-mahasiswa yang selama ini menekuni masalah keilmuan khusus di jurusannya. Dari sini, labelisasi mahasiswa study-oriented (SO) yang sering disandingkan dengan sifat 'apatis' dapat dihapuskan. Toh, mereka tetap berkontribusi banyak pada himpunannya dengan menghasilkan prestasi yang berkaitan dengan dunia keilmuan.

Begitu pula dengan bidang minat bakat. Mahasiswa yang memilih aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tidak lagi dianggap sebagai orang 'asing' di jurusannya hanya karena memutuskan untuk aktif di lembaga lain selain himpunan jurusan. Intinya, setiap mahasiswa akhirnya memiliki hak pilih untuk menentukan bentuk dan wadah kontribusinya.

Namun, konsep pengaderan ini belum bisa dikatakan sempurna. Banyak elemen pengader di jurusan-jurusan yang masih bingung tentang pelaksanaan lapangannya. Oleh karenanya, perlu segera diadakan semacam lokakarya yang menerangkan konsep ini kepada mahasiswa. Apabila tidak, konsep ini sekali lagi hanya akan bertengger pada tataran ide belaka.

Hal lainnya yang perlu digarisbawahi dari hasil Mubes IV adalah pelaksanaan pengaderan massal yang selama dua tahun terakhir ini disebut sebagai Generasi Integralistik (Gerigi). Bila selama ini pengaderan jurusan cenderung menanamkan doktrin jurusan-sentris, maka Gerigi hadir untuk melepas sekat-sekat penghalang mahasiswa seperti jurusan, fakultas dan sebagainnya. Dalam kegiatan ini, mahasiswa baru diberi pemahaman untuk tidak memandang ITS secara parsial, melainkan sebagai bentuk yang terintegrasi. Kehadiran Gerigi juga diprakarsai untuk turut mengeliminasi arogansi jurusan yang terkadang menimbulkan perpecahan.

Namun, tren menunjukkan bahwa integralistik yang diajarkan akhirnya juga harus kalah kembali dengan arogansi jurusan masing-masing. Hal ini dapat dimengerti karena pelaksanaan Gerigi tidak seintens pelaksanaan pengaderan jurusan. Bila pengaderan jurusan dilakukan selama lebih dari satu semester maka Gerigi hanya menghabiskan waktu selama satu minggu saja dalam pelaksanaanya.

Mengingat pentingnya integralistik mahasiswa ini, maka sebaiknya dibentuk pula sebuah regulasi khusus yang memungkinkan pengaderan massal mengambil waktu yang sama dengan pengaderan jurusan. Hal ini semata-mata untuk menyeimbangakan pencapaian kedua bentuk kegiatan ini.

Permasalahan pengaderan berujung kembali pada niat dan usaha seluruh mahasiswa ITS. Konsep baru yang ditawarkan oleh Mubes IV tentu akan meminta lebih banyak tenaga dalam pelaksanaanya. Elemen pengader juga dituntut lebih kreatif dalam menjalankan agenda pengaderan agar mencakup tiga bidang yang disepakati. Niat yang tulus dan usaha yang maksimal tentunya akan memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Semoga ini menjadi awal baru pengkaderan yang lebih baik lagi dan ITS pun mempunyai jiwa jiwa pemimpin baru di masa yang akan datang.(st)
^^ coba cek artikel diatas kawan ...

3 komentar:

Hendri Widananto mengatakan...

Nice gan!

Hendri djogdja www.topikcyber.com

Unknown mengatakan...

@Hendri : mksh udak komentar ...

Adhe Edogawa mengatakan...

link banner udah terpasang gan di http://adhe-edogawa.blogspot.com/
di tunggu baclinya ya...

Posting Komentar

My Banner

alprology

---

Banner iklan

Lomba Blog Pojok Pulsa Agustus 2012 ads ads ads ads ads

Script blog saya :

<a href="http://sulton-its.co.cc/" target="new"><img border="0" alt="ads" src="http://i1057.photobucket.com/albums/t399/st_sulton/ST-punya-cerita.gif" /></a>

BANNER TEMAN

CLOCK

I Rossonerri

I Rossonerri

Add FB ku kawan ...

Total Pengunjung


Ac Milan

Blogroll

Read more: http://tipstricks888.blogspot.com/2011/07/membuat-navigasi-halaman-blog.html#ixzz22PPhxWOj